Kelelahan pada anak jarang datang dengan pengumuman. Ia menyelinap pelan lewat hal-hal yang mudah kita anggap biasa. Anak yang dulu bersemangat bercerita tentang proyek kelasnya kini menjawab singkat. Buku dibuka, tetapi halamannya tidak berpindah selama setengah jam. Pagi hari menjadi lebih berat, dan alasan untuk tidak berangkat bertambah kreatif dari minggu ke minggu. Sebagian orang tua membaca ini sebagai kemalasan. Padahal sering kali yang terjadi adalah anak sedang kehabisan tenaga, bukan kehilangan minat.
Jadwal anak masa kini memang padat. Setelah jam sekolah masih ada les, latihan, tugas kelompok, dan ekspektasi yang datang dari berbagai arah sekaligus. Orang dewasa yang bekerja penuh waktu punya akhir pekan untuk memulihkan diri. Anak sering tidak punya jeda serupa, karena akhir pekannya pun sudah terisi. Yang membedakan anak dari orang dewasa adalah anak belum punya perbendaharaan kata untuk menjelaskan bahwa dirinya sedang kewalahan. Ia hanya merasakannya, lalu menampilkannya lewat perilaku yang mudah disalahpahami.
Di sinilah peran sekolah menjadi sangat menentukan, karena sekolahlah yang memegang porsi terbesar dari hari anak. Sekolah menentukan berapa banyak tugas yang menumpuk di malam yang sama, seberapa sering ujian datang beruntun, dan seberapa besar tekanan yang melekat pada setiap angka. Sekolah juga menentukan apakah anak merasa boleh berkata lelah tanpa dianggap lemah. Keputusan-keputusan ini tampak teknis, tetapi dampaknya sangat terasa pada kondisi anak sehari-hari.
Sekolah yang memperhatikan hal ini biasanya punya kebiasaan mengatur ritme. Beban tugas ditata agar tidak semuanya jatuh di pekan yang sama. Ada waktu yang benar-benar kosong dalam jadwal, bukan hanya perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Guru saling berkoordinasi sebelum menentukan tenggat, sehingga anak tidak menghadapi tiga tuntutan besar dalam satu malam. Pengaturan sederhana semacam ini sering kali lebih berpengaruh daripada ceramah panjang tentang pentingnya istirahat.
Yang tidak kalah penting adalah membekali anak dengan cara mengenali kondisinya sendiri. Anak yang terlatih menyadari napasnya yang memburu, bahunya yang menegang, atau pikirannya yang berputar tanpa henti punya peluang lebih besar untuk berhenti sejenak sebelum kelelahan itu menumpuk. Latihan mindfulness memberi keterampilan dasar semacam ini. Bukan untuk menghapus tekanan, karena tekanan akan selalu ada dalam hidup, melainkan untuk memberi anak jarak yang cukup agar ia bisa memilih apa yang akan ia lakukan berikutnya. Di Global Sevilla, latihan itu dijalankan lewat Mindfulness Program yang menyatu dalam keseharian dan diperkuat kegiatan seperti “A Day of Mindfulness”, bukan diberikan sebagai penawar darurat ketika anak sudah terlanjur kepayahan.
Kelelahan anak juga sering bersumber dari sesuatu yang tidak berhubungan dengan tugas sama sekali. Ketegangan sosial menguras tenaga dengan cara yang tidak terlihat. Anak yang setiap hari harus memikirkan di mana ia akan duduk saat istirahat, atau bagaimana menghindari seorang teman tertentu, sedang memakai sebagian besar energinya untuk bertahan, bukan untuk belajar. Lingkungan yang aman dan bebas perundungan, seperti yang dijaga lewat School Peace Zone pledge, sebenarnya adalah bentuk penghematan energi bagi anak. Ketika rasa aman sudah terjamin, tenaganya bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
Peran guru dalam hal ini jauh lebih besar daripada yang biasanya disadari. Guru yang mengenal muridnya dengan baik akan menangkap perubahan kecil yang tidak tercatat di mana pun, misalnya anak yang biasanya duduk di depan kini memilih pojok belakang, atau anak yang dulu selalu mengumpulkan tugas tepat waktu mulai sering terlambat tanpa alasan jelas. Isyarat seperti ini mudah luput bila kelas hanya diukur dari nilai akhir. Sekolah yang membiasakan guru mencatat dan membicarakan perubahan perilaku muridnya sedang membangun sistem peringatan dini yang sederhana, tetapi sangat berguna.
Ada pula sisi yang jarang dibicarakan, yaitu bagaimana sekolah memaknai kegagalan. Anak yang percaya bahwa satu nilai buruk akan menentukan seluruh masa depannya akan hidup dalam kewaspadaan yang melelahkan. Sekolah yang menempatkan kesalahan sebagai bagian wajar dari proses belajar memberi anak ruang bernapas yang sangat dibutuhkan. Ia tetap berusaha keras, tetapi usahanya tidak lagi ditemani ketakutan. Perbedaan antara belajar karena ingin tahu dan belajar karena takut mengecewakan terasa jelas dalam jangka panjang.
Orang tua tetap memegang peran besar di rumah, dan perannya tidak selalu rumit. Sering kali cukup dengan mengurangi satu kegiatan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu dinikmati anak. Menjaga waktu tidur tetap cukup dan teratur. Menyediakan sedikit waktu tanpa agenda, tempat anak boleh bosan tanpa merasa bersalah. Dan yang paling sederhana, mengganti pertanyaan tentang nilai dengan pertanyaan tentang bagian hari yang paling ia sukai. Bila perubahan pada anak terasa berat atau berkepanjangan, mendiskusikannya bersama pihak sekolah dan tenaga profesional yang tepat adalah langkah yang bijak.
Perlu juga diingat bahwa memulihkan tenaga anak bukan berarti menurunkan harapan terhadapnya. Anak justru berkembang ketika ditantang, asalkan tantangan itu datang dengan dukungan yang sepadan. Yang melelahkan bukanlah pelajaran yang sulit, melainkan pelajaran sulit yang harus dihadapi sendirian, tanpa merasa boleh bertanya. Ketika anak tahu bahwa ada guru yang bersedia menjelaskan ulang tanpa membuatnya merasa bodoh, kesulitan berubah menjadi sesuatu yang menarik, bukan menakutkan. Di situlah perbedaan antara sekolah yang menuntut dan sekolah yang menekan menjadi sangat terasa.
Semua ini berpangkal pada cara pandang yang memahami bahwa murid yang bahagia adalah murid yang berprestasi. Kesejahteraan bukan kemewahan yang ditunda sampai target akademik tercapai. Ia justru bahan bakar yang membuat anak sanggup menempuh kurikulum yang menuntut seperti IB dan Cambridge tanpa kehilangan semangatnya di tengah jalan. Anak yang cukup istirahat, merasa aman, dan tahu cara menenangkan dirinya punya daya tahan yang jauh lebih panjang daripada anak yang sekadar dipacu.
Jika Anda merasa anak Anda sedang berjalan terlalu cepat untuk usianya, bicarakanlah hal ini dengan orang yang memahami dunia sekolah. Konsultasi dengan tim admisi bisa menjadi awal yang berguna untuk memetakan kebutuhan anak, ritme belajar yang cocok, dan bentuk dukungan yang tersedia. Anda bisa mempelajari pendekatan school wellbeing jakarta di kampus Pulo Mas, Jakarta Timur, maupun Puri Indah, Jakarta Barat, lalu membicarakan situasi anak Anda secara terbuka. Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak sampai lebih dulu, melainkan memastikan ia masih punya tenaga dan rasa ingin tahu ketika tiba di sana.